Penyakit Jantung Koroner, Sang Pembunuh

Penyakit Jantung Koroner, Sang Pembunuh

Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung terpenting. Lebih banyak buku dan jurnal membahas penyakit ini dibanding penyakit jantung lainnya. Lebih banyak penelitian dilakukan terhadap penyakit jantung koroner dibandingkan penyakit jantung lainnya. Bahkan mungkin dibandingkan dengan penyakit lain apapun di dunia.

Penyakit jantung koroner telah lebih dari satu dekade merupakan penyebab kematian tertinggi, baik untuk laki-laki maupun wanita. Sekitar 27% kematian disebabkan oleh penyakit ini. Bandingkan dengan kanker, yang pada umumnya sangat ditakuti oleh masyarakat, yang ‘hanya’ 22%.

Penyakit ini termasuk golongan penyakit degeneratif, artinya penurunan fungsi atau struktur organ berjalan sesuai dengan bertambahnya umur. Proses terjadi secara alamiah sesuai dengan proses penuaan. Tapi juga bisa timbul lebih dini berkaitan dengan pola hidup yang salah.

Pada penyakit jantung koroner proses degeneratif yang terjadi adalah aterosklerosis. Aterosklerosis adalah proses penumpukan plak di pembuluh darah, yang pada penyakit jantung koroner terjadi di pembuluh koroner. Proses aterosklerosis terjadi secara alamiah sejalan dengan bertambahnya umur. Tapi dapat timbul lebih cepat bila memiliki faktor resiko seperti merokok, hipertensi, diabetes atau kolesterol.

Sebagai akibat penumpukan plak, pembuluh koroner menyempit, aliran koroner ke otot jantung berkurang. Ini kondisi yang dikenal dengan iskemia jantung. Gejala yang timbul adalah nyeri dada atau angina pektoris.

Tidak semua penderita penyakit jantung koroner menunjukkan gejala nyeri dada. Pada pasien tanpa gejala, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini lebih awal, seperti EKG dan tes treadmill. Untuk konfirmasi diagnosis penyakit jantung koroner pemeriksaan-pemeriksaan yang lebih canggih diperlukan, seperti CT-scan jantung dan kateterisasi jantung.

Pembuluh koroner bisa tersumbat total, suatu kejadian yang dikenal sebagai serangan jantung. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa meninggal mendadak.

Dunia kedokteran memberi perhatian yang luar biasa terhadap serangan jantung. Berbagai kemajuan, baik obat maupun tindakan, telah dicapai untuk mengoptimalkan penanganan serangan jantung, menurunkan angka kematian dan serangan jantung ulang di kemudian hari.

Hal penting lainnya setelah mengalami serangan jantung adalah pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder artinya mencegah supaya tidak terkena kejadian akut koroner atau serangan berulang. Pencegahan sekunder dilakukan dengan mengubah pola hidup, dan konsumsi obat-obatan.

Seringkali diperlukan bukan hanya obat, tapi juga tindakan. Dikenal sebagai tindakan revaskularisasi. Revaskularisasi artinya membuat aliran koroner baik kembali. Hal ini hampir tidak mungkin dicapai hanya dengan obat. Harus dengan tindakan. Dua tindakan utama yang dapat dilakukan adalah Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG). PCI dikenal awam sebagai pemasangan stent atau cincin jantung. CABG lebih dikenal dengan istilah operasi bypass jantung.

Baca juga: